lautansajak
| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Wednesday, October 21, 2009
Merindu Desa

Tak ada lagi kokok ayam hutan di belukar
tempat kita dulu saling berbagi cerita tentang burung-burung
yang kabur dari sangkar, juga ikan-ikan
berenang di air keruh
di semak itu, kini hanya ada puntung ganja dan viagra

Kerikil yang menyembul dari tanah lempung
menyimpan banyak cerita,
tentang serigala dan hantu pohon ara
juga tujuh bidadari di rawa-rawa
yang mengganggu tidur kita

Tak ada lagi buah onak
yang biasa kita kulum dengan penuh cinta
sambil menunggu senja tiba
dan mengembalikan semua mimpi
yang terpenggal sejak pagi

Di masa kecil,
aroma kebun dan lembutnya embun
seakan begitu magis
menyihir ladang-ladang dan rerumputan
menjadi hamparan puisi yang hijau

Pekanbaru, 2009


Ziarah Kota

Selepas malam aku berkunjung ke jembatan tua
tempat kau dulu sering melagukan beberapa puisi
sambil memainkan kecapi dengan jemarimu yang sekeras besi
tak ada lagi yang istimewa, selain mikroba beracun
dan sisa sampah lokalisasi yang mengendap di sungai

Di tiang yang terus merapuh dan berkarat
tempat kau dulu pernah punya hasrat bunuh diri
masih ada sisa arang dari ciuman api
kapal barang yang terbakar ketika bersandar di bandar
selebihnya, hanya lumut dan sisa lipstik yang mengering

Sebuah cangkir beling tangkainya patah
masih setia menancap di tanah basah
tempat kau dulu sering membuang puntung rokok
sambil mendesis serupa ular betina yang meregang
setelah sehelai kulitnya terkulai di lantai

Tak ada yang istimewa,
selain dua bocah terjebak di gunungan sampah
mungkinkan itu anak-anakmu?
dari lelakimu yang tersesat di ketiak para pendosa
di kota lain, yang barangkali lebih jenaka

Pekanbaru, 2009

Sampan Tua di Pelantar

Sampan tua di pelantar menunggui ombak pulang
tapi sampai senja tak juga datang
kau pun terperangkap dalam cangkang
kesunyian yang mengental
seperti warna gambut yang kusut

Kau terus menunggunya,
di antara semilir angin yang meniupkan sepi
sesenyap kampung halaman
yang tersangkut pada batang kelapa, enau
dan lalu-lalang perantau

Selatpanjang, 2009


Doa Sepasang Sepatu

Tuhan, selepas hujan kemana aku harus menapak?
sebab dunia hanya seluas kubangan lumpur
sedangkan telapak sudah tergerus kerikil yang menggelinding
pada musim panas tahun lalu
musim api membakar ladang-ladang

Aku takut tergelincir, seperti sepasang pandir
yang melompat-lompat di atas pasir
padahal gerimis menyisakan lumut
di pagar bambu berwarna gambut
sambil mencumbu rerumput liar di halaman

Tiupan angin membisikiku sebuah kalimat beracun
dalam grafiti yang bersambung sampai di parkiran
melompat-lompat di tangga dan mengendap-endap di atas meja
di depan kursi, haruskah aku menyanyi?
seperti sepasang kurcaci yang terkunci di dalam laci

Pekanbaru, 2009
Monday, October 13, 2008

RIWAYAT KOTA


sebuah kota yang kau ceritakan kepadaku tiba-tiba menjadi hantu

sebab sebuah rindu pernah menyatu dengan debu-debu

yang menampar kita, saat belajar bercumbu dengan waktu

kemudian kerikil itu membiak di tubuhmu, menjadi sebuah arca

yang menyeringai setiap musim hujan tiba


kau tahu, kota itu pernah merasakan hampa

hingga pedagang kali lima yang bermukin sepanjang kanal

mengutuki malam yang semakin binal

sebab desis ular di setiap trotoar seperti bisikan cinta

dalam bahasa paling rahasia


mungkin saat ini arca di tubuhmu telah berdiri angkuh

di setiap persimpangan sambil mengacungkan kapak

yang dulu hampir membunuhku, saat mendekapmu

dalam sebuah keriuhan pasar malam

yang dipenuhi para demonstran


dalam sesobek surat kabar, aku membingkai kota itu

agar selalu menjadi hantu di setiap malamku

sebab aku selalu merindukan irama desah nafasmu

yang menggebu bersama deru kereta subuh

tempat kita dulu saling berbagi peluh


Pekanbaru, 2008



RIWAYAT CINTA


setiap kali mengamati sisa airmata di pipimu

aku seperti menyelami sebuah danau yang hijau

karena aku ikan yang merayap di celah rerumputan

sambil meniupkan gelembung-gelembung ke permukaan

karena kau seekor bangau yang menunggu


hingga rintik gerimis memaksaku menjadi nelayan

yang termenung di atas sampan

melemparkan jala ke setiap penjuru

sambil berharap tersangkut di reranting perdu

karena kau setangkai bunga yang bisu


dengan luka yang sama, kumaknai isyarat angin

sampai burung-burung yang bersarang di kepalaku

mengabarkan para peri mandi di danau

aku ingin mencuri pelangi yang melilit tubuhmu

sampai lanskap senja membentuk silhuet merah jambu


akhirnya, buah kuldi yang kau lempar selepas malam

menancap di leherku. hingga suaraku terdengar parau

untuk sekadar mengucap sebuah kalimat cinta

sebab kau ingin aku kembali menjadi ikan

yang merenangi setiap danau di tubuhmu


Pekanbaru, 2008



RIWAYAT BADAI


kau selalu datang setiap tengah malam

sambil membisikiku kalimat cinta dalam petir yang sama

hingga kapuk-kapuk beterbangan

mengitari langit-langit penuh jelaga

dari lelampu yang membakar separuh mimpi


segelas wine, katrin

mungkin akan menenangkan tubuhmu

yang selalu menggelinjang setiap selesai bercumbu

karena hembusan nafasmu begitu dingin

membekukan ranjang dan dinding kamar


secangkir moka, rita

mungkin kau terlalu mabuk dengan vodka

dan sebatang candu yang menemani malammu

dalam keriuhan kota yang binal

hingga suara gaduh itu serupa karnaval


tiba-tiba kau datang, dengan bisikan sendu

sambil memamerkan puting beliung yang berpusar di tubuhmu

kalimat cinta itu, kemudian menjadi beracun

sebab aku lupa bertanya:

di dalam angin ada kelembutan?


Pekanbaru, 2008

Wednesday, May 14, 2008
Aku ingin menanami hamparan sawah yang memanjang di hatimu
Dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku
Lalu kualiri dengan sungai yang memancar di lubuk rindu
Dengarlah seruling cinta itu, mengalun sampai ke padang-padang
Beriring kasidah panjang di keremangan petang

Aku ingin melingkarkan sebait puisi di jemarimu
Sampai embun pagi memutih
Menghapus kesunyian kita sepanjang pematang
Saat mengeja nama anak-anak yang tertulis di setiap bulir padi
Hingga menguning dan berwarna gading

Semalam, aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya
Sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa
Agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis warna warni rumah kita
Ketika aku menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta

Lihatlah, menjelang malam Tuhan mengirimi bulan
Hingga puisi yang lekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu
Burung-burung kemudian memahat kesetiaan
Dengan paruhnya yang meruncing karena rindu

Tiba di dermaga, ayah ibu kita, pasangan kekasih tua itu
Memberi sebuah sampan yang ditatahnya dari batu karang
Sebab laut akan mengiringi, dengan gelombang surut dan pasang
Sampai waktu membuktikan setiap makna
Dari kata-kata yang kita kayuh berdua

Bogor, 2008

Sajak ini menjadi pemenang "Karya Terpuji" Sayembara Puisi Cinta Tabloid Nyata 2008

Thursday, January 17, 2008
kita bertemu dalam keremangan senja di meja-meja bandar
setelah tersadai di atas perahu, mengecup tempias air sungai berlumut
kaukah yang mengirim kartu pos bergambar lancang tua itu?
dengan goresan-goresan impresionis berwarna tangis:
anak-anak terperangkap tempurung kampung halaman
tersebab perutnya membusung, rumah-rumah terpasung

tiba-tiba kau meniupkan terompet kemiskinan, melengking-lengking
serupa nyanyian panjang orang-orang petalangan, bonai, sakai
yang tercabik-cabik di hutan sendiri, tersingkir dari peta negeri
kemudian sedu sedan itu mengaram di hulu kampar, siak dan rokan
setiap musim banjir, kebakaran, kering kerontang
menyinggahi orang-orang yang mengeja makna kehilangan

isyarat cinta membirahi di ladang-ladang mimpi
menciptakan tetabuhan irama kompang, zapin dan randai
sampai tubuh-tubuh menyatu di ceruk puak dan marwah
bersebati dengan melodi pantai, bukit, lembah
yang bermuara di semenanjung, teluk, pulau-pulau
masih adakah pukau di rahim melayu?

refrain puisimu menggarami luka
kusam di tingkap rumah-rumah adat, menjelaga
di tempayan tempat kita menyeduh air mata
sampai mendidih, karena matahari memanggang impian
yang terkubur di lahan-lahan tidur, pipa-pipa liur
hingga mengabadi dalam katu pos dan sobekan surat kabar

kau pun tahu, lagu itu kita rekam dalam ruang perih
poster-poster masa depan, pita-pita kepedihan
berbingkai kesunyian, sisa kasih sayang, cinta hampa
yang ternoda janji-janji di bangku sidang, alun-alun kota, panggung istana
hingga semua makna menguap begitu saja:
dan kau pun tahu, mereka selalu diam, bisu, lugu?

tapi kita akan menyanyi sampai lancang tua itu mengelupas dari kartu pos
merenangi sungai-sungai yang berhulu di rahim melayu
setelah musim hujan memekarkan ladang-ladang, hutan-hutan, perkampungan
dan anak-anak tak lagi membusung, terkapar di bandar
saat merangkai kembang kemiskinan di antara silau kota, istana emas, rumah dinas
hingga isyarat cinta menjadi impresionis, kau kirim tanpa tangis

Pekanbaru, 2007
perawan hutan menjelagalah di beranda
wangikan tingkap kayu berlumut
menjelma anyir perahu
di hulu sungai yang risau

letih memunguti serpih dedaunan
seperti serindit merangkai sarang
di batang sialang kering tak bercabang
seharian mengitari pagi dan petang

lihatlah, pancang tua patahkan kemudi
biduk lapuk memaki masa depan
tersuruk di turap berkarat
sebab deru tongkang terus menerjang

di celah ombak yang meruncing
karena kerumunan ikan merindukan ibu
sambil mengasah pisau
sampai berkilau di akar enau

ingin lahir dari ibu segala ibu
berhutan dan berahim sembilu
yang kini tak lagi hijau
ditetak perompak di hulu

perawan hutan menangislah
sampai air mata basahi tubuhmu
yang dihuni ikan-ikan
membatu karena limbah

o, akulah sungai kau muara
kucumbu di riak sajak
keruh menemani setiap kata
yang belum sempat terucap

saat angin menggarami petang
yang tersangkut tiang jembatan
rumah-rumah panggung
anak-anak membusung

karena lapar, ladang terbakar
tanah apak nasib terkapak
di rerimbun matamu
bersalju debu

dengarlah pekik siamang
lintang pukang
ketika aroma rimba tergadai
mesin-mesin industri

di tepi sungai siak
aku kembali bersajak
perawan hutan menepilah
sebelum rahimmu terbelah

kau lumut aku lumpur
bertemu di musim kemarau
anak kita getah
menangis di semak bakau

musim hujan tenggelamkan kampung
terkurung sejak pagi
serupa katak dalam tempurung
berhari-hari

kau sampan aku ikan
terjebak di semak paku
kita pun berdekapan
serupa karang dan air pasang

tiba di laut kita kesepian
tak ada lagi riuh tetabuhan
di sisi pelantar pelabuhan
tempat merayakan impian

pulanglah perawan hutan
di rumah kayumu yang melapuk
karena akulah lumut
di rambutmu yang gambut

Pekanbaru, 2007
Wednesday, September 26, 2007
dalam gerimis gigil itu menjadi puisi
merinai di antara detak jantung dan deru kendaraan
lalu, kata-kata berjatuhan di beberapa tikungan
seperti percikan serbuk kopi
yang mendidih di atas bara matamu

pesan singkat itu perlahan-lahan memanjang
berputar di jalan-jalan dengan lampu yang membias
dalam kabut dan cahaya rembulan
di tepi sungai, sudut-sudut kafe
tapi aroma kopi masih tersimpan rapi

aku belum bisa memaknai segelas kopi
dengan wanginya yang serupa kembang malam
percakapan belum selesai, sampai rotasi menjadi ngilu
membadai di bait-bait waktu. seperti pesanmu:
tetap kusimpan sebelah mata yang jenaka

Pekanbaru, 2007


JALAN KE KUANTAN

sepanjang jalan aku menyeruput sisa pepohonan
menghijau di antara bebatuan
memukau di celah asap pembakaran
yang menyisakan tunggul dan arang
matahari kesepian

tebing-tebing luruh
menggelinding saat hujan menciumi bebukitan
sebab semak belukar kian memar
berjatuhan setiap kemarau
mengirimi risau

jalan-jalan bergelombang
seperti sebaris lautan yang menghitam
memanjang menuju kelam
ketika malam
menutupi jalan pulang

Kuansing, 2007


SENJA UJUNG SUNGAI
kepada riak sungai aku hanyutkan puisi
rangkaian kata yang aneh, agar mengambang di lautmu
setelah senja melukis silhuet tubuh kita
di antara meja-meja dan dermaga
yang menyatu dengan jemariku

matahari mulai mengaram
di hulu matamu yang memancarkan huruf-huruf redup
seperti gumpalan awan kemerahan
mengendap di langit beku
sebab cerita masih berupa rencana-rencana

sampan nelayan menebarkan rahasia
di jala-jala yang tersangkut tiang jembatan
terekam indah di matamu yang mengkotak
biarkan imaji itu, dikayuhnya menuju senja
sebab di sana segala makna bermuara

Pekanbaru, 2007


SEBUAH PERTEMUAN

sebuah malam mempertemukan sepasang kepala
juga sepasang hati, sepasang risau
di rerumputan yang memutih
kerinduan itu menjelma tetabuhan
yang menggema sampai pagi
di panggung-panggung mimpi

seperti jejak kaki yang menyatu
di bukit-bukit waktu, lengkung langit
menandai detak jam yang terdiam
lalu malam pun surut
menyisakan sebercak kisah di lembar almanak
yang terus saja bergerak

Pekanbaru, 2007
Tuesday, June 12, 2007
rintik hujan tiba-tiba menjadi hangat
membentuk kristal bening di jemarimu
saat sentuhan angin merontokkan kebekuan
yang begitu lama mengendap dalam senyap

cahaya lampu itu, seperti pijar matamu
yang memukau di antara gerak pepohonan
kilau wajahmu memantul dari percikan hujan
bersama silhuet bulan di keremangan

tak ada percakapan yang tertinggal
seperti sisa gerimis di bebatuan
sebab langkah kita menyatu dalam buaian angin
meskipun senyummu begitu dingin

Bogor, Juni 2007
masih ada lampu di wajahmu
yang menyala menjelang petang
seperti isyarat rindu di matamu
yang memintaku segera datang

masih ada cahaya di pipimu
yang begitu putih dan bening
seperti isyarat cinta tak terucap
yang terperangkap dalam hening

tak ada mendung di matamu
yang mengirimi hujan untuk membasahi bunga-bunga
seperti tanganku yang begitu kaku
untuk melukiskan segurat tanda

Bogor, Juni 2007
kita duduk berdua, tanpa makna. hanya senyum
yang membuatku menggenggam jemarimu
seperti dedaunan melindungi reranting
dari sentuhan angin yang dingin dan asing

aku selalu ingin memandang matamu berkali-kali
sebab selalu kutemukan cahaya
seperti aku selalu ingin memandang rembulan
saat langit menampakkan sisi gelapnya

kau tertawa, lebih merdu dari deru kereta
yang menghantarkan kita pada stasiun terakhir
meskipun rel belum berakhir

Bogor, Juni 2007
Tuesday, June 05, 2007
: evy

dermaga 1
bidukmu terapung di celah senja yang merona
antara percikan ombak dan dayung, mengitari semenanjung
menembus angin pesisir di pulau-pulau anyir
oleh aroma ikan, wangi kehidupan
ah geliat tubuhmu serupa duyung berenang ke tepian
menjemput cintamu yang tertambat di pelabuhan

dermaga 2
kepada karang kau bercerita tentang kehidupan
di laut yang membiru oleh ikan-ikan dan terumbu
warna jala dan kemilau nelayan menggarami petang
dan di pesisir, anak-anak itu, menyusu pada asin perahu
yang berlayar dari pulau ke pulau, sampai ke laut paling dalam
menebar masa depan dan impian

dermaga 3
jangan menangis, katamu
sebab air mata akan menenggelamkan separuh daratan
menghapus isyarat cinta yang terukir di atas pasir
bermekaran sepanjang pantai, sampai ke ujung palung
dan di lautmu, aku mencoba memahami bahasa ombak
membaca kilau mutiara di dasarnya

Bogor, 2007