RIWAYAT KOTA
sebuah
sebab sebuah rindu pernah menyatu dengan debu-debu
yang menampar kita, saat belajar bercumbu dengan waktu
kemudian kerikil itu membiak di tubuhmu, menjadi sebuah arca
yang menyeringai setiap musim hujan tiba
kau tahu,
hingga pedagang kali
mengutuki malam yang semakin binal
sebab desis ular di setiap trotoar seperti bisikan cinta
dalam bahasa paling rahasia
mungkin saat ini arca di tubuhmu telah berdiri angkuh
di setiap persimpangan sambil mengacungkan kapak
yang dulu hampir membunuhku, saat mendekapmu
dalam sebuah keriuhan pasar malam
yang dipenuhi para demonstran
dalam sesobek
agar selalu menjadi hantu di setiap malamku
sebab aku selalu merindukan irama desah nafasmu
yang menggebu bersama deru kereta subuh
tempat kita dulu saling berbagi peluh
Pekanbaru, 2008
RIWAYAT CINTA
setiap kali mengamati sisa airmata di pipimu
aku seperti menyelami sebuah danau yang hijau
karena aku ikan yang merayap di celah rerumputan
sambil meniupkan gelembung-gelembung ke permukaan
karena kau seekor bangau yang menunggu
hingga rintik gerimis memaksaku menjadi nelayan
yang termenung di atas sampan
melemparkan jala ke setiap penjuru
sambil berharap tersangkut di reranting perdu
karena kau setangkai bunga yang bisu
dengan luka yang sama, kumaknai isyarat angin
sampai burung-burung yang bersarang di kepalaku
mengabarkan para peri mandi di danau
aku ingin mencuri pelangi yang melilit tubuhmu
sampai lanskap senja membentuk silhuet merah jambu
akhirnya, buah kuldi yang kau lempar selepas malam
menancap di leherku. hingga suaraku terdengar parau
untuk sekadar mengucap sebuah kalimat cinta
sebab kau ingin aku kembali menjadi ikan
yang merenangi setiap danau di tubuhmu
Pekanbaru, 2008
RIWAYAT BADAI
kau selalu datang setiap tengah malam
sambil membisikiku kalimat cinta dalam petir yang sama
hingga kapuk-kapuk beterbangan
mengitari langit-langit penuh jelaga
dari lelampu yang membakar separuh mimpi
segelas wine, katrin
mungkin akan menenangkan tubuhmu
yang selalu menggelinjang setiap selesai bercumbu
karena hembusan nafasmu begitu dingin
membekukan ranjang dan dinding kamar
secangkir moka, rita
mungkin kau terlalu mabuk dengan vodka
dan sebatang candu yang menemani malammu
dalam keriuhan
hingga suara gaduh itu serupa karnaval
tiba-tiba kau datang, dengan bisikan sendu
sambil memamerkan puting beliung yang berpusar di tubuhmu
kalimat cinta itu, kemudian menjadi beracun
sebab aku lupa bertanya:
di dalam angin ada kelembutan?
Pekanbaru, 2008
Aku ingin melingkarkan sebait puisi di jemarimu
Sampai embun pagi memutih
Menghapus kesunyian kita sepanjang pematang
Saat mengeja nama anak-anak yang tertulis di setiap bulir padi
Hingga menguning dan berwarna gading
Semalam, aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya
Sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa
Agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis warna warni rumah kita
Ketika aku menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta
Lihatlah, menjelang malam Tuhan mengirimi bulan
Hingga puisi yang lekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu
Burung-burung kemudian memahat kesetiaan
Dengan paruhnya yang meruncing karena rindu
Tiba di dermaga, ayah ibu kita, pasangan kekasih tua itu
Memberi sebuah sampan yang ditatahnya dari batu karang
Sebab laut akan mengiringi, dengan gelombang surut dan pasang
Sampai waktu membuktikan setiap makna
Dari kata-kata yang kita kayuh berdua
Bogor, 2008
Sajak ini menjadi pemenang "Karya Terpuji" Sayembara Puisi Cinta Tabloid Nyata 2008
dermaga 2
kepada karang kau bercerita tentang kehidupan
di laut yang membiru oleh ikan-ikan dan terumbu
warna jala dan kemilau nelayan menggarami petang
dan di pesisir, anak-anak itu, menyusu pada asin perahu
yang berlayar dari pulau ke pulau, sampai ke laut paling dalam
menebar masa depan dan impian
dermaga 3
jangan menangis, katamu
sebab air mata akan menenggelamkan separuh daratan
menghapus isyarat cinta yang terukir di atas pasir
bermekaran sepanjang pantai, sampai ke ujung palung
dan di lautmu, aku mencoba memahami bahasa ombak
membaca kilau mutiara di dasarnya
Bogor, 2007